Mengenal Ego State dalam Diri untuk Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Emosional - ENHA THERAPY - HIPNOTERAPI KUDUS, PAKAR HIPNOTERAPI, , TOTOK PUNGGUNG, TOTOK PUNGGUNG KUDUS
Konsultasi Gratis

Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Mengenal Ego State dalam Diri untuk Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Emosional



    Untuk lebih memahami diri sendiri, penting untuk mengenal ego state dalam diri kita. Ego state adalah istilah yang merujuk pada berbagai jenis kepribadian yang ada dalam diri seseorang. Konsep ini awalnya dikenalkan oleh psikiater Eric Berne dalam teorinya yang dikenal sebagai Transactional Analysis.yang digunakan dalam psikologi dan psikoterapi untuk menggambarkan bagaimana orang memiliki beberapa aspek atau mode psikologis yang berbeda-beda dalam dirinya.

    Setiap orang memiliki rantai pengalaman yang terbentuk sejak masa kecil hingga dewasa, dan setiap pengalaman itu membentuk suatu ego state dalam diri mereka. Ego state terdiri dari tiga jenis yaitu Parent, Adult, dan Child. Parent state adalah pola tingkah laku yang kita terima dari orangtua maupun orang dewasa yang kita kagumi ketika masih kanak-kanak. State dewasa adalah pola tingkah laku yang didapatkan dari pertimbangan logis dan rasional masa dewasa. Sedangkan Child state adalah reaksi dan emosi yang kita perlihatkan ketika kita merasa terancam atau tidak aman.

    Dalam Parent state, kita akan menunjukkan berbagai tindakan yang kita pelajari dari orang tua dan orang dewasa sekitar kita. Ketika seseorang sedang dalam parent ego state, dia mungkin akan menunjukkan sifat terlalu memberikan nasehat, terlalu kritis dan otoriter, atau bahkan memperlakukan orang lain seperti anak kecil. Hal ini dapat merugikan hubungan interpersonal seseorang, karena orang lain tidak akan merasa nyaman serta merasa tidak dihargai oleh apa yang dikatakan oleh orang yang sedang berada dalam parent ego state.

    State dewasa adalah saat kita menggunakan pertimbangan yang logis dan rasional guna menyelesaikan suatu masalah. Seseorang yang sedang berada dalam state dewasa akan menunjukkan sifat yang rasional, objektif, dan cenderung memperlihatkan kebijaksanaan dalam bertindak. Namun, ketika seseorang terlalu banyak menghabiskan waktu dalam state dewasa, ia mungkin menunjukkan sikap yang terlalu menekan emosi dan terlalu logis, sehingga dirinya sendiri dan orang lain tidak merasa nyaman dalam interaksinya.

    Sedangkan dalam Child state, kita akan menunjukkan reaksi dan emosi yang terbentuk dari masa kecil kita. State ini dapat berupa Child Adapted atau Natural Child. Child Adapted adalah state ketika seseorang berada dalam suasana hati yang bertindak layaknya anak kecil agar tidak menyinggung orang lain. Contoh dari hal ini adalah ketika seseorang menyimpan kemarahan atau kekecewaan terhadap seseorang, tetapi menghindari konfrontasi karena takut merugikan hubungan keduanya. Sedangkan Natural Child adalah ketika seseorang benar-benar menunjukkan karakteristik atau sifat anak kecil seperti spontanitas, rasa ingin tahu, dan kreativitas. 

    Untuk mengenal serta memahami ego state dalam diri kita, kita dapat melakukan kolaborasi antara psikologi klinis dan psikoterapi. Beberapa terapis mungkin akan menggunakan teknik terapi integratif, yakni menggunakan perspektif dan pengalaman berbeda untuk membantu pasiennya memahami dan mengatasi ego state dalam diri mereka. Salah satu teknik yang dapat digunakan, yaitu Transactional Analysis (analisis transaksional).

    Menurut teori analisis transaksional, kita dapat mengamati tiga komponen yang ada dalam diri kita, yaitu pikiran (thoughts), perasaan (feelings), dan tindakan (behaviors). Ketika kita menyadari bahwa kita sedang berada dalam state yang salah, seperti parent yang terlalu otoriter, kita dapat menggunakan konsep analisis transaksional seperti counter-parenting untuk mengubah state dalam diri kita.

    Penelitian yang dilakukan oleh Goldstein (2014) menunjukkan bahwa terapi integratif dan pendekatan analisis transaksi dapat membantu orang untuk meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan emosi. Hasil dari penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pendekatan terapi integratif dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengendalikan perilaku dan emosinya, meningkatkan pengambilan keputusan, serta meningkatkan kemampuan sosialnya. 

    Dalam sisi penelitian, metode observasi dan wawancara digunakan untuk menangkap gambaran secara mendalam mengenai aspek apa yang membentuk ego state pada seseorang. Dalam hal ini peneliti mengamati orang dan meminta mereka menceritakan pengalaman dan pengaruh yang terkait dengan ego state yang hadir pada diri mereka. Kemudian, data dianalisis secara kualitatif untuk membuat kesimpulan tentang bagaimana aspek tersebut berkaitan dengan ego state dalam diri seseorang.

    Kesimpulannya, ego state merujuk pada aspek aspek internal yang membentuk kepribadian kita sebagai individu. Ketika kita memahami apa yang mempengaruhi ego state dan cara mengontrolnya, kita dapat melakukan interaksi antara diri sendiri dan orang lain dengan lebih efektif dan efisien. Konsep analisis transaksional dapat membantu kita mengidentifikasi state dalam diri kita dan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik dalam hubungan interpersonal dan lingkungan sosial kita. 

    Disusun oleh: Nurul Hilal Ayyidar, S.Pd., M.Kom, C.H., C.Ht. Prof., C.I.

    Kang Hilal adalah Terapis Holistik Profesional tersertifikasi yang memiliki keahlian dalam Hipnoterapi, NLP, dan Terapi Fisik (Totok Punggung & Syaraf). Beliau fokus memberikan dukungan komplementer untuk penyembuhan mental dan fisik. [Baca Profil Lengkap Kang Hilal &  Disclaimer Medis di sini]

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ad728