Mengenal Psikosomatis: Saat Pikiran Mempengaruhi Kesehatan Fisik
Psikosomatis berasal dari bahasa Yunani, di mana "psyche" berarti jiwa dan "soma" berarti tubuh. Konsep ini telah ada sejak zaman kuno dan dikenal sebagai hubungan antara jiwa dan tubuh. Kehidupan sehari-hari dapat menjadi faktor pemicu psikosomatis. Stres di tempat kerja atau masalah dalam hubungan dapat menyebabkan kecemasan atau depresi yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik seseorang. Selain itu, kurang tidur atau kurang olahraga juga dapat memperburuk kondisi psikosomatis.
Bagaimana Psikosomatis Terjadi?
Psikosomatis terjadi ketika stres atau emosi negatif lainnya menyebabkan gangguan pada sistem saraf otonom seseorang. Sistem saraf otonom adalah bagian dari sistem saraf yang mengatur fungsi tubuh yang tidak disadari, seperti detak jantung, pernapasan, dan pencernaan.
Penelitian telah menunjukkan bahwa stres dapat memengaruhi kesehatan fisik seseorang. Ketika seseorang mengalami stres, hormon kortisol dilepaskan ke dalam aliran darah, yang dapat mempengaruhi fungsi organ tubuh seperti jantung, ginjal, lambung dan usus. Stres juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan denyut jantung yang tidak sehat. Ketika seseorang mengalami stres atau emosi negatif lainnya, sistem saraf otonom dapat menjadi tidak seimbang.
Sementara itu, kecemasan dapat menyebabkan gejala fisik seperti pusing, napas pendek, dan palpitas. Gangguan pencernaan, mual dan nyeri perut juga merupakan gejala psikosomatis yang sering terjadi pada orang yang mengalami kecemasan. Depresi dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang secara drastis dan dapat menyebabkan masalah fisik seperti kelelahan, kesulitan dalam berkonsentrasi, dan bahkan gangguan tidur.
Namun, meskipun psikosomatis dapat menyebabkan gejala fisik yang cukup serius, itu juga dapat diobati dengan baik jika dikelola dengan benar. Terapi perilaku kognitif dan terapi anxiolytic dapat membantu pengobatan stres dan kecemasan. Terapi ini melibatkan seni belajar untuk mengelola stres secara efektif, menggunakan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau olahraga terapeutik, dan perbaikan interaksi sosial.
Ketika seseorang mengalami kondisi psikosomatis, penting untuk mengetahui bahwa kondisi tersebut bukanlah sebatas masalah fisik, tetapi juga memerlukan pengelolaan faktor psikologis. Faktor psikologis memiliki peran penting dalam kesehatan seseorang. Seperti yang dikatakan oleh Sigmund Freud, "Kita tidak semata-mata memiliki tubuh; kita adalah tubuh", Ini membuktikan bahwa kesehatan tubuh kita sangat tergantung pada kesehatan jiwa kita.
Sumber referensi:
- Barsky, A. J., & Borus, J. F. (1999). Functional somatic syndromes. Annals of internal medicine, 130(11), 910-921.
- Deary, V., & Chalder, T. (2010). Personality and perfectionism in chronic fatigue syndrome: a closer look. Journal of health psychology, 15(7), 1038-1045.
- Kroenke, K. (2004). Physical symptoms and depression: a medical perspective. Depression and anxiety, 20(4), 160-167.
- Shapiro, S. (1977). Psychosomatic medicine then and now. In Psychosomatic medicine (pp. 1-8). Springer, Boston, MA.
Disusun oleh: Nurul Hilal Ayyidar, S.Pd., M.Kom, C.H., C.Ht. Prof., C.I.
Kang Hilal adalah Terapis Holistik Profesional tersertifikasi yang memiliki keahlian dalam Hipnoterapi, NLP, dan Terapi Fisik (Totok Punggung & Syaraf). Beliau fokus memberikan dukungan komplementer untuk penyembuhan mental dan fisik. [Baca Profil Lengkap Kang Hilal & Disclaimer Medis di sini]
