Ego dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Manusia
Pengertian Ego
Ego merupakan salah satu unsur psikologi yang telah lama menjadi fokus para peneliti di berbagai bidang disiplin ilmu. Sigmund Freud, seorang bapak psikoanalisis, dalam teorinya menggolongkan ego sebagai salah satu dari tiga unsur utama kepribadian manusia, yaitu id, ego, dan superego. Ego merupakan perantara antara id yang hanya mengikuti naluri dan superego yang mewakili nilai-nilai moral yang diajarkan oleh masyarakat. Ego dalam pemikiran Freud, berfungsi untuk menyeimbangkan kebutuhan dasar id dengan tuntutan moralitas superego.
Dalam psikologi modern, ego diartikan sebagai kepercayaan atau keyakinan yang dimiliki seseorang terhadap citra dirinya sendiri. Ego juga dihubungkan dengan keberhasilan, keberadaan, harga diri, otonomi, dan kontrol diri (Tangney, et al., 2004). Ego dapat menjadi faktor yang positif atau negatif bagi seseorang, tergantung pada bagaimana ia mengelolanya. Ego yang terlalu besar dapat membuat seseorang menjadi sombong, arogan, dan meremehkan orang lain. Sementara itu, ego yang terlalu kecil dapat membuat seseorang merasa tidak layak, minder, dan rendah diri.
Pentingnya pengelolaan ego dalam kehidupan manusia sangat penting. Pengelolaan ego yang tepat dapat membantu seseorang untuk mencapai tujuannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan memperbaiki hubungan interpersonal. Seseorang yang memiliki pengelolaan ego yang baik akan cenderung lebih mudah menerima kritik, bersikap terbuka, dan mampu mengambil keputusan yang bijak.
Namun, tidak semua orang mampu mengelola ego mereka dengan baik. Terkadang, ego dapat membuat seseorang menjadi tidak obyektif, termasuk dalam pengambilan keputusan. Seseorang yang berada pada posisi tertentu, seperti kepala sekolah, manajer, atau pemimpin, dapat mudah menjadi korban dari kekuatan ego mereka dan cenderung mencari keuntungan pribadi daripada kepentingan bersama. Keadaan seperti ini cenderung membuat orang lain merasa diabaikan dan merugikan masyarakat.
Pengaruh Negatif
Adanya pengaruh negatif dari ego dalam keseharian manusia telah dibuktikan dalam beberapa studi. Sebuah studi pada 2003 menunjukkan bahwa seseorang yang terobsesi dengan kepentingan pribadinya, cenderung kurang mampu mengidentifikasi dan mengatasi konflik di tempat kerja (Maccoby & Avolio, 2003). Selain itu, mereka juga cenderung kurang peka terhadap kebutuhan orang lain, berpotensi membuat kesalahan, dan kurang mampu dalam mengambil keputusan.
Dalam tataran sosial, ego juga dapat mempengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain. Seseorang yang memiliki ego yang besar atau merasa lebih baik dari orang lain, cenderung tidak mampu bersikap ramah, sopan, atau berempati terhadap orang lain. Mereka cenderung berbicara tanpa mendengarkan, memperlihatkan sikap superioritas terhadap bawahan, dan mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain. Atas dasar inilah sering kali kita merasakan ketidakadilan dalam sebuah organisasi kerja.
Sadar atau tidak, ego dapat memengaruhi kecepatan kemajuan seseorang dalam suatu pekerjaan. Ego yang besar dapat membuat seseorang merasa tidak puas dengan pekerjaannya, merasa terlalu pintar untuk belajar dari orang lain, dan kesulitan dalam memahami saran atau masukan orang lain. Akhirnya, seseorang yang memiliki ego besar cenderung sulit berkembang dan tetap stagnan dalam kariernya.
Pengaruh Positif
Namun, bukan berarti ego hanya membawa dampak negatif pada kehidupan manusia. Ego juga dapat menjadi faktor yang positif, terutama dalam hal memotivasi seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya. Seseorang yang memiliki ego yang baik dapat memiliki rasa percaya diri yang tinggi, yang berarti mereka terus mencoba meningkatkan kinerja diri dan menunjukkan keberhasilan. Ego yang positif dapat menghasilkan karakteristik positif; seperti keyakinan pada diri sendiri, keberanian, kreativitas, pengetahuan yang luas, dan kemampuan bekerja keras (Zackson, 1986).
Dalam menangani masalah ego, seseorang perlu memahami bahwa ego adalah bagian dari dirinya dan perlu dikontrol agar tidak berlebihan. Hipnoterapi dan konselor dapat membantu dalam pengelolaan ego seseorang dengan menawarkan metode pengendalian diri, seperti teknik relaksasi atau meditasi. Hipnoterapi juga dapat digunakan untuk membantu seseorang memahami alasan mengapa mereka merasa tidak aman tentang dirinya sendiri atau mempertahankan ego yang berlebihan.
Kesimpulan
Ego merupakan aspek integral dari kepribadian manusia yang membawa dampak positif dan negatif pada kehidupan seseorang. Penting bagi seseorang untuk mengelola ego mereka dengan baik, agar tidak mengalami kelebihan atau kekurangan yang mengganggu kehidupan sosial dan karier mereka. Peran pengendalian diri dan kesadaran diri sangat penting dalam mempertahankan tingkat ego yang sehat. Semua kemampuan ini dapat dipelajari dalam berbagai pendekatan sumber daya manusia di dunia kerja dan ilmu psikologi.
Sumber rujukan:
- Tangney, J. P., Stuewig, J., & Mashek, D. J. (2004). Moral emotions and moral behavior. Annu. Rev. Psychol, 55, 345-372.
- Maccoby, M., & Avolio, B. J. (2013). Narcissistic leaders: The incredible pros, the inevitable cons. Harvard Business Review.
- Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2019). Social psychology. Pearson.
- Zackson, R. T. (1986). Positive self-talk and performance enhancement in cognitive-behavioral interventions. The Counseling Psychologist, 14(1), 57-62.
Disusun oleh: Nurul Hilal Ayyidar, S.Pd., M.Kom, C.H., C.Ht. Prof., C.I.
Kang Hilal adalah Terapis Holistik Profesional tersertifikasi yang memiliki keahlian dalam Hipnoterapi, NLP, dan Terapi Fisik (Totok Punggung & Syaraf). Beliau fokus memberikan dukungan komplementer untuk penyembuhan mental dan fisik. [Baca Profil Lengkap Kang Hilal & Disclaimer Medis di sini]